Minggu, 23 Januari 2011

ngewe ibuku.. ku ewe ibunya..

TELEPON yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan ulangi beberapa menit lagi. Begitu yang kudengar setiap kupencet namanya pada memori HP ku. Lagi ada di mana si penjahat seks itu sampai HP nya dimatikan? Aku sampai lupa meminum es juice dan menyantap pisang keju yang terhidang di mejaku karena terus mencoba menghubungi Tora, temanku.

“Tumben sendirian. Biasanya sama Tora,” kata Bu Tiwi, pemilik kantin.
“Iya nih Bu, HP nya dimatikan. Nggak bisa dihubungi,” ujarku setelah menghirup es juice yang terhidang dan mengunyah pisang keju. Sebenarnya telah hilang selera makanku pada makananan dan minuman favoritku itu karena tak berhasil menghubungi Tora.
“Kalau mau bolos sekolah bareng mestinya janjian yang mateng. Jadi nggak manyun begitu,” ujar Bu Tiwi lagi sambil melayani pembeli yang lain.

Benar juga omongan Bu Tiwi. Ini memang salahku. Semestinya, semalam atau tadi sebelum berangkat kontak Tora dulu hingga bisa janjian. Kalau sudah begini, aku yang repot. Mau masuk sekolah udah kesiangan dan pasti pintu pagar udah ditutup sementara Tora tidak bisa dihubungi. Atau bisa jadi ia berangkat sekolah tanpa bawa HP.

Gagasan untuk bolos sekolah memang murni ideku dan belum kusampaikan ke Tora. Sewaktu mau berangkat, Rizal, temanku yang lain datang ke rumah dan meminjamkan sejumlah VCD porno yang pernah ia janjikan. Lalu muncul gagasan untuk membolos dan nonton bareng Tora di rumah. Aku yakin Tora pasti tak menolak. Karena seperti kata Rizal diantara film-film yang dipinjamkan, ada yang bercerita tentang hubungan seks antara seorang anak laki-laki dengan ibunya.

Thema seperti itu, atau setidaknya yang menggambarkan hubungan seks antara pria muda dengan wanita yang lebih dewasa bahkan yang lebih pantas menjadi ibunya, adalah yang sangat digemari Tora. Bahkan dalam pengalaman nyata, seperti pengakuan dan cerita Tora, ia sering menyetubuhi pembantunya, wanita yang telah berusia 43 tahun. Tora juga mengaku sering terangsang saat mengintip ibunya sendiri yang tengah telanjang. Itulah kenapa aku sering menyebutnya sebagai penjahat seks.

Di luar itu Tora juga yang mengajari dan memperkenalkanku pada kebiasaan onani. Menurutnya, aku tergolong pria puritan karena hingga berumur 18 tahun belum tahu dan tidak pernah melakukan onani. Dan ketika ia menggagas untuk membuat lubang rahasia untuk mengintip aktivitas ibuku dari kamarku yang memang bersebelahan dengan kamar ibu, aku tak kuasa menolaknya.

Menurut Tora, tubuh ibuku sangat menggairahkan dan merangsang. Sama seperti tubuh ibunya yang memang usianya tak jauh berbeda karena usia ibu 47 sedang ibunya Tora lebih muda setahun. Dan seperti ibunya Tora, ibuku juga sudah menjanda cukup lama. Hanya Tora punya kakak perempuan yang sudah menikah dan hidup terpisah. Sedangkan aku, anak tunggal dan hanya hidup berdua dengan ibu sejak kecil. Bahkan konon, sebenarnya aku bukan anak ayahku yang meninggal saat usiaku masih balita. Tapi buah perselingkuhan ibu dengan pemuda tetangganya setelah menikah cukup lama dan tidak punya anak.

“Sam bibir ngewe ibumu besar dan membusung banget. Mau deh aku menjilati lubangnya. Ah, pasti enak banget kalau ngewe,” ujar Tora berbisik ketika ia menginap di kamarku suatu malam dan mengintip ke kamar ibu dari lubang rahasia yang kami buat. Saat itu, ibu tidur mengangkang tanpa mengenakan celana dalam dan dasternya tersingkap.

Malam itu Tora memuaskan diri beronani sambil sambil mengintip dan membayangkan menyetubuhi ibuku. Dan lucunya, aku juga melakukan yang sama. Hanya aku melakukan secara diam-diam setelah Tora tertidur pulas. Benar seperti kata Tora, wanita seusia ibu memang lebih matang dan merangsang. Sejak itu, aku sering mengintip ke kamar ibu di saat terangsang dan hendak beronani. Aku juga ingin merasakan nikmatnya bersetubuh dengan ibu kendati sejauh ini belum pernah melakukan sekali pun dengan wanita lain.

Satu jam lebih duduk tercenung sendiri di kantin Bu Tiwi akhirnya membuatku jenuh. Setelah sekali lagi mencoba menghubungi HP Tora tak tersambung, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Paling ibu sudah berangkat ke Puskesmas tempatnya bekerja hingga nggak bakalan tahu kalau aku membolos, pikirku. Setelah membayar makanan, aku langsung keluar dan menyetop angkutan kota yang rutenya melewati jalur jalan dekat rumah. Motor memang sengaja tak kubawa karena tadinya berniat membolos dengan Tora.

Sampai di rumah, seperti biasa aku masuk lewat pintu belakang. Kunci rumah bagian depan memang selalu dibawa oleh ibu karena dia yang berangkat belakangan setiap hari. Aku membawa kunci pintu belakang agar tak repot mampir ke kantor ibu untuk mengambil kunci saat pulang sekolah.

Namun di dalam, saat masuk ke ruang tengah, aku dibuat kaget. sepeda motor Tora ada di sana terparkir di dekat motorku. Sementara tas hitam yang biasa dibawa ibu ke kantor teronggok di atas meja makan. Jadi ibu belum berangkat? Dan kenapa motor Tora ada di sini? Aku jadi curiga. Jangan-jangan Tora juga ada di sini dan lagi berdua dengan ibuku di kamarnya. Memikirkan kemungkinan itu, kuperlambat jalanku. Dengan berjingkat kumasuki kamarku sendiri. Setelah mengunci pintu kamar dari dalam, langsung kutuju lubang rahasia yang biasa kugunakan untuk mengintip ke kamar ibu.

Dugaanku tidak meleset. Tora ada di kamar itu berdua dengan ibuku. Di atas ranjang besar tempat tidur ibu, keduanya tengah ngewe. Kulihat Ibu sudah tidak berpakaian dan satu-satunya penutup tubuh yang dikenakan hanya celana dalam warna hitam, duduk menyandar di dinding kamar. Ia terlihat sangat menikmati apa yang tengah dilakukan Tora pada dirinya. Ya Tora menghisapi salah satu pentil susu ibu di bagian kiri dengan mulutnya. Sementara payudaranya yang sebelah kanan, sesekali dibelai dan diremas gemas oleh pemuda teman akrab dan kawan sekolahku itu.

Seperti bayi yang kehausan, Tora menetek dengan lahap di payudara ibu yang besar. Pasti hisapannya sangat kuat pada puting susu ibu yang coklat kehitaman hingga ibu tampak menggelinjang menahan nikmat. Terlebih tangan Tora juga tak mau berhenti meremasi buah dadanya yang lain sambil sesekali memilin putingnya. “Ah… ah.. terus hisap Ron, ah enak banget. Tetek tante enak banget kamu begitukan Ron, ah.. sshh…ahh …aaahhh,” suara ibu terdengar mengerang dan melenguh menahan nikmat.

Mungkin seharusnya aku merasa jengah atau stidaknya memprotes atas apa yang tengah dilakukan Tora pada ibuku. Tetapi tidak, aku malah menikmati permainan mereka. Bahkan ingin rasanya aku menggantikan peran Tora. Karena sudah cukup lama aku ingin menyentuh dan menghisap tetek ibu bahkan sekaligus menyetubuhinya. Aku memang sangat terangsang setiap mengintip dan mendapati ibu tengah telanjang. Hanya selama ini aku hanya bisa menyetubuhi dalam angan-angan yakni beronani sambil membayangkan menyetubuhinya.
Aku makin terangsang ketika Tora mulai menciumi kemaluan ibu dari luar CD hitam yang dikenakannya. Kulihat ujung hidung Tora disentuhkan di bagian tengah bibir ngewe ibu yang masih tertutup CD. Sesekali Tora juga menggunakan mulutnya untuk mengecup. Ah kenapa Tora tidak segera melepas saja CD hitam itu. Terus terang aku jadi tidak sabar untuk melihat bentuk sejelasnya vagina ibu. Selama ini, setiap mengintip, aku hanya bisa melihatnya sepintas. Kini, dengan posisi duduk mengangkang seperti itu, kalau CD nya dibuka pasti bibir ngewe ibu bisa terlihat detilnya.

Ternyata harapanku tidak sia-sia. Hanya, bukan Tora yang mengambil insiatif tetapi malah ibuku. “Kamu sudah kangen ngewe ama tante ya Ron? Tante buka deh celana dalamnya biar kamu bisa melihat sepuasnya atau ngewe sesuka kamu. Tetapi baju dan celana kamu dibuka juga dong,” kata ibu sambil memelorotkan dan melepas celana dalamnya.

Kini ibuku benar-benar telanjang tanpa sehelai benang yang menutupinya setelah CD warna hitamnya dilepas dan dilemparkan sekenanya. Dan yang membuatku kaget, bibir ngewe ibu yang biasanya terlihat lebat ditumbuhi rambut hitam, telah dicukur gundul. Padahal tiga hari lalu, saat aku mengintipnya dari kamar seusai mandi, vagina ibu masih tertutup oleh kerimbunan rambut hitam keritingnya.

Tetapi bibir ngewe yang telah tercukur kelimis itu lebih merangsang karena seluruh detilnya jadi terlihat jelas. Dalam posisi duduknya yang mengangkang, kemaluan ibuku membentuk busungan besar yang terbelah di bagian tengahnya. Hanya, bibir ngewe bagian luarnya yang berwarna coklat kehitaman terlihat tebal dan berkerut. Kontras dengan warna di bagian dalam yang agak kemerahan. Sedangkan kelentitnya yang berada di ujung celah bagian atas, terlihat cukup besar ukurannya. Mungkin sebesar biji jagung dan tampak mencuat. Ah .. merangsang banget.

Bibir bagian luar bibir ngewe ibu yang berwarna coklat kehitaman, tebal dan berkerut itu, kemungkinan terbentuk akibat seringnya tergesek kejantanan milik laki-laki. Baik milik almarhum suaminya semasa hidup atau milik ayah kandungku yang menjadi teman selingkuh ibu. Bahkan mungkin penis beberapa pria lain yang pernah singgah dalam hidupnya karena beberapa tahun lalu sempat pula kudengar kabar ibu ada main dengan salah seorang atasannya hingga sebagai PNS ia sempat dipindahtugaskan ke daerah terpencil selama beberapa waktu.
Tora menghampiri ibuku setelah melepas baju seragam sekolah dan semua yang dikenakannya. Penis nya tampak tegak mengacung dan keras. Hanya, soal ukuran, kuyakin setingkat di bawah punyaku yang lebih panjang dan besar. Tadinya kukira Tora akan langsung menindih dan menancapkan rudalnya di bibir ngewe ibu yang memang telah menunggu untuk disogok.
Namun dengan santai, bak lelaki dewasa yang sudah berpengalaman dengan perempuan, direbahkannya tubuhnya dekat tubuh ibu mengangkang. Posisi kepalanya persis berada diantara kedua paha ibu yang terbuka lebar atau persis berhadapan dengan bibir ngewe ibuku. Posisi itu dipilihnya, nampaknya agar ia dapat dengan mudah menatapi bibir ngewe ibuku dari jarak sangat dekat dan sekaligus menyentuhnya.

Ibuku kian membuka lebar kangkangan pahanya ketika tangan Tora mulai menjamah bagian paling sensitif miliknya. Diusap-usapnya bibir luar bibir ngewe ibu yang tebal dan berkerut dengan telapak tangannya dan sesekali diselipkannya ujung jari tengah tangan Tora ke bibir ngewe di antara celahnya. Disentuh sedemikian rupa oleh tangan Tora, terlebih ketika jari tengah teman sekolahku itu menyentuh kelentitnya, mulut ibu mulai mendesis dan melenguh.
Tora tak hanya menggunakan tangan untuk menyentuhnya tetapi mulai menggunakan lidahnya untuk menjilat dan mengkilik bibir ngewe nya, maka desahan yang keluar berubah menjadi erangan. Bahkan tubuh ibuku terlihat menggelinjang dan tergetar ketika Tora mengecupi dan menghisapi kelentit ibuku. “Aauuw.. oh.. oh.. Ron kamu apakan bibir ngewe tante. Ssshh.. sshh oh enak banget Ron. Ya.. ya ahh enak banget Ron, terus sayang ya terus aahhh ,” erangnya menahan nikmat.

Suara yang keluar dari mulut ibuku, bukannya membuat Tora menghentikan aksinya. Tetapi malah memberinya semangat untuk membuat aksi jilatan dan hisapan dengan mulutnya lebih efektif. Lidahnya makin dalam dijulurkan ke dalam bibir ngewe itu dan hisapannya pada kelentit ibu dilakukannya dengan lebih keras dan gemas. Hingga tubuh ibuku berkali-kali meronta namun terlihat sangat menikmatinya.

Puncaknya, Tora tak hanya menjilati bibir ngewe ibuku. Lidahnya yang kuyakin telah terlatih untuk menjilati bibir ngewe Bik Nah, wanita yang bekerja sebagai pembantu di rumahnya yang sering diceritakannya, mulai mencari sasaran lain. Itu kuketahui karena setelah ia meremas-remas bokong besar ibuku dan membukanya hingga anusnya terlihat, lidahnya kembali dijulurkan dan diarahkan ke sana. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun ia mulai menyapu-nyapukan lidahnya di anus yang berwarna senada dengan bibir ngewe ibu yang coklat kehitaman.

Tidak hanya menyapu dan menjilat, lidah Tora pun dicolokkan bagian ujungnya seolah berusaha menerobos ke bagian dalam anus itu. Diperlakukan seperti itu bibir ngewe keras menahan nikmat. “Iiiihhhh diapakan lagi tante Ron. Oh.. oh.. sshh… aahh enak banget Ron. Kamu pintar banget sayang. Tante nggak pernah merasakan ngewe yang seperti ini,” ungkapnya terbata di sela-sela rintihan dan lenguhan yang keluar dari mulut ibuku.

Mungkin karena sudah tak tahan menahan gairah yang kian memuncak, ibu akhirnya menggeser tubuh. Melepaskan bokong nya dari mulut Tora yang terus mencengkeram menyerang anusnya dengan jilatan lidahnya. Tadinya ibu bermaksud melakukan serangan balik yakni mengerjai penis Tora dengan mulutnya. Namun Tora memaksa ingin tetap dapat mengerjai bagian bawah tubuh ibu. Hingga akhirnya disepakati untuk posisi ngewe 69 yang memungkinkan keduanya dapat menjilat dan menghisap bagian paling peka milik keduanya.
Dengan posisi merangkak di atas tubuh Tora yang telentang, ibu memulai aksinya dengan melakukan sapuan dan jilatan pada kepala penis Tora yang tegak mengacung. Lalu, dikulum dan dimasukkannya batang penis Tora ke dalam mulutnya sambil dihisap-hisapnya. Perlakuan serupa dilakukan ibu pada kedua biji pelir kemaluan Tora. Maka kini Tora dibuatnya seperti cacing kepanasan. Tubuh Tora terlihat mengejang. Ia juga mengerang melampiaskan rasa nikmat yang diterimanya dengan meremasi bongkahan bokong besar ibuku.

Menikmati adegan panas yang dilakukan ibu dan Tora dari tempatku mengintip, tanpa sadar aku mengeluarkan sendiri penis ku yang juga telah tegak mengacung dan mulai meremasinya sendiri. Nafasku memburu menahan gairah yang kian membakar. Ah, kapan aku bisa menyentuh dan menikmati keindahan tubuh ibu seperti yang tengah dilakukan Tora saat ini, keluhku membatin. Bahkan sempat pula menyelinap dalam anganku untuk menikmati kehangatan tubuh Tante Dewi Persik, ibunya Tora.

Kocokan pada penisku makin kupercepat ketika adegan di kamar ibu mendekati klimaks. Kulihat ibu telah dalam posisi berjongkok di atas pinggul Tora dan mengarahkan bibir ngewe nya ke tonggak penis Tora yang tegak mengacung. Maka ketika bokong ibu diturunkan perlahan, masuk dan amblaslah batang penis itu ke dalam kehangatan kemaluan ibuku. “Kamu diam saja Ron, kini giliran tante yang memberi kenikmatan,” kata ibu sambil mulai menaik-turunkan pinggulnya.

Tidak hanya gerakan naik turun yang dilakukan ibu di atas tubuh Tora. Sesekali, sambil membenamkan lebih dalam penis Tora di dalam bibir ngewe nya, pinggul ibu memutar-mutar hingga keduanya merasakan kenikmatan yang ditimbulkan. “Ah.. sshhh oh.. oh.. bibir ngewe tante enak banget seperti menghisap. Oh.. oh enak banget tante, ah.. ah punya Tora mau keluar tan, ah… oh,”

“Tahan dulu Ron jangan dikeluarkan dulu. Kita ganti posisi ngewe ya? Biar keluarnya sama-sama enak,” ujar ibu sambil merubah posisi ngewe.

Tanpa menunggu lama, setelah ibu kembali dalam posisi ngewe mengangkang, Tora yang terlihat sudah tidak mampu lagi mengontrol gairahnya langsung mengarahkan ujung penis nya ke bibir ngewe ibuku. Dan entah disengaja atau karena tak mampu menahan gairah yang menggebu, Tora menurunkan pinggulnya dengan sentakan yang cukup kuat. Akibatnya, di samping batang kemaluan Tora langsung amblas terbenam, ibu jadi mengerang tertahan.
“Auw .. pelan-pelan dong sayang,”

“Maaf tente. Habis Tora gemes sih sama bibir ngewe tante,” kata Tora sambil terus menaik turunkan tubuhnya di atas tubuh ibuku.

Awalnya hanya perlahan. Namun ketika ibu mulai meningkahi dengan menggoyang-goyang memutar pinggulnya, hunjaman penis Tora di bibir ngewe ibuku semakin cepat. Akibatnya peluh nampak berleleran pada pasangan berlainan jenis sekaligus berbeda usia cukup jauh yang tengah melampiaskan hasratnya itu. Sesekali tangan Tora kulihat menjamah dan meremasi tetek ibuku yang terguncang-guncang. Memilin-milin putingnya dan juga menghisap dengan mulutnya.
Tenda-tanda keduanya hendak mencapai klimaks terlihat ketika gerakan Tora terlihat kian tidak terkontrol. Begitu pun ibu, goyangan pinggulnya tidak berirama lagi. Puncaknya, keduanya sama-sama mengerang dengan tubuh mengejang. Maka jebolah pertahanan Tora, maninya tercurah menyembur di bibir ngewe ibuku. Sedangkan ibuku, puncak orgasmenya ditunjukkan dengan belitan kakinya ke pinggang Tora dibarengi tubuh yang mengejang hebat.

Pagi itu, setelah ibu kembali ke kamar seusai membersihkan diri di kamar mandi, sebenarnya Tora mencoba melakukan pemanasan kembali. Saat ibu berdiri di depan meja rias dan hendak memakai celana dalam, Tora mencegahnya. Ia berjongkok di depannya dan mulai mengecupi bibir ngewe ibu. Bahkan salah satu kaki ibu diangkatnya dan ditempatkannya di kursi meja rias hingga memudahkannya menjilati bibir ngewe ibu. Namun kendati ibu terlihat kembali terangsang oleh hisapan mulut Tora pada kelentitnya, ia menolak melanjutkannya lebih jauh.
Menurut ibu, hari ini ada rapat penting di kantornya yang tidak dapat ditinggalkan. Maka Tora terpaksa harus menahan diri untuk kembali melampiaskan gairah mudanya yang masih menggebu. Keduanya meninggalkan rumah setelah berdandan rapi. Sedangkan aku, terpaksa meneruskan onaniku yang belum tuntas sambil membayangkan hangatnya tubuh ibuku.

Bagian II

Sejak peristiwa itu, aku jadi tahu kemana perginya Tora tiap membolos sekolah tanpa mengajakku. Belakangan memang Tora sering membolos tetapi tidak memberitahu dan mengajakku. Rupanya dia punya acara asyik ngentot dengan ibuku. Tetapi yang membuatku kagum dan mengundang rasa ingin tahuku, bagaimana awal mulanya hingga ia bisa berselingkuh dengan ibuku?

Untuk bertanya langsung padanya aku tidak berani. Takut dia jadi tahu bahwa sebenarnya perbuatannya dengan ibuku telah diketahui olehku dan pertemananku dengannya jadi renggang. Lagian terus terang, kalau diberi kesempatan, aku juga ingin banget bisa bisa menikmati bibir ngewe ibu. Juga ngentot dengan ibunya Tora yang bodi dan keseksiannya nyaris sama dengan ibuku jadi aku harus membina keakraban dengan Tora. Hanya untuk melangkah ke arah itu aku belum berani dan tidak punya pengalaman seperti Tora.

Belakangan, sejak mengetahui antara ibu dan Tora ada hubungan khusus, aku sering memberi kesempatan agar mereka bisa menyalurkan hasratnya secara lebih leluasa. Saat Tora main ke rumah, aku pura-pura punya acara dengan teman lain dan meninggalkan mereka. Padahal, aku malah ke rumah Tora dengan berpura-pura pada ibunya hendak menemui dia. Hingga belakangan hubunganku dengan ibunya Tora makin akrab dan aku bebas melakukan apa saja di rumahnya seperti halnya Tora di rumahku.

Seperti sore itu, di saat Tora main ke rumah, aku berpura-pura udah janjian dengan pacarku untuk menghadiri acara ulang tahun. Padahal aku langsung ke rumah Tora. “Tadi katanya ke rumah kamu Did? Padahal udah dari tadi lho,” kata ibunya Tora saat aku masuk.
Saat membukakan pintu, ibunya Tora rupanya habis mandi. Tubuhnya basah dan hanya dibungkus handuk. Tetapi, handuk yang dipakai melilit tubuhnya sangat kekecilan. Hingga di bagian bawah hanya menutup sampai ke pangkal pahanya. Sementara teteknya yang besar menggunung tampak menyembul karena handuk itu tidak mampu menutup rapat bagian itu sepenuhnya.

Seperti halnya ibuku, ibunya Tora juga berbodi tinggi besar. Bokong nya besar membusung dengan pinggul yang mengundang. Hanya, kulit Tante Dewi Persik (nama ibunya Tora) agak sedikit gelap. Tetapi kesemua bagian tubuhnya benar-benar merangsang hingga membuatku terpana menatapinya. Namun anehnya, kendati tatapanku terang-terangan tertuju pada pahanya yang menyembul dan bagian lain tubuhnya yang mengundang selera, ia seperti tak menghiraukannya.

Setelah mempersilahkanku masuk dan menutup pintu, dengan santai ia membereskan koran dan majalah yang terserak di ruang tamu. Posisinya yang agak membungkuk saat melakukan aktivitasnya itu menjadikan gairahku terpacu lebih kencang. Betapa tidak, karena handuknya yang kelewat kecil, bongkahan bokong besarnya kini benar-benar terpampang di hadapanku. Juga aku bisa melihat bibir ngewe nya yang mengintip di antara pangkal pahanya.

Kuyakin itu disengaja. Karena ia seperti berlama-lama dalam posisi itu kendati koran dan majalah yang dibereskan hanya sedikit. Ah ingin rasanya meremas bokong besar yang menggunung itu. Atau mengelus bibir ngewe nya yang sepertinya habis bercukur. Kalau Tora, mungkin ia sudah nekad melakukan apa yang diinginkan. Tetapi aku tidak memiliki keberanian hingga hanya jakunku yang turun naik menelan ludah.

“Eh Did, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya. Tante harus menagih ke orang tapi tempatnya jauh dan sulit kendaraan,” ujarnya setelah semua koran dan majalah tertata rapi di tempatnya.

“Eee.. ee bi.. bisa tante. Nggak ada acara kok,” kataku agak tergagap.
“Kalau begitu tante ganti baju dulu. Oh ya kalau kamu haus ambil sendiri di kulkas, mungkin masih ada yang bisa diminum,” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis namun sangat sulit kuartikan.

Satu buah teh botol dingin yang kuambil dari kulkas langsung kutenggak dari botolnya. Rupanya, tontonan gratis yang sangat menggairahkanku tadi membuat tenggorokanku jadi kering hingga teh botol dingin itu langsung tandas. Belakangan baru kusadari, ternyata Tante Dewi Persik tidak menutup kembali pintu kamarnya. Dengan bertelanjang bulat, karena handuk yang melilit tubuhnya telah dilepas, dengan santai ia memilih-milih baju yang hendak dikenakan. Maka kembali suguhan mengundang itu tersaji di hadapanku.

Bukan hanya bokong nya yang besar membusung. Buah dada Tante Dewi Persik juga besar namun agak menggantung. Putingnya yang berwarna coklat kehitaman, terlihat mencuat. Ah ingin banget bisa membelai dan meremasnya atau menghisapnya seperti yang dilakukan Tora pada tetek ibuku. Sebenarnya aku ingin banget melihat bentuk bibir ngewe Tante Dewi Persik secara jelas. Namun karena posisinya membelakangiku, aku tak dapat melihatnya. Tetapi benar seperti kata Tora, tubuh ibunya yang berambut sebahu itu masih belum kehilangan pesonanya sebagai wanita.

Setelah menemukan baju yang dicari dan berniat dipakainya, Tante Dewi Persik berbalik dan memergokiku tengah menatapi tubuh telanjangnya. Tetapi sepertinya ia tidak marah. Bahkan dengan santai, ia kenakan celana dalam di hadapanku. Hanya karena merasa tidak enak dan takut dianggap terlalu kurang ajar, aku segera meninggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menunggunya.

Ibunya Tora meski telah bergelar hajah dan setiap keluar rumah selalu membungkus rapat tubuhnya dengan busana muslimah, namun masih menjalankan usaha yang tercela. Di samping bisnisnya sebagai pedagang perhiasan berlian, ia juga meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau rentenir. Hanya kalau di rumah, pakaiannya sangat terbuka dan tidak sungkan-sungkan memamerkan tubuh indahnya seperti yang barusan dilakukan di hadapanku.

Rumah orang yang ditagih Tante Dewi Persik ternyata memang cukup jauh dan kondisi jalannya juga jelek. Untung orangnya ada dan memenuhi janjinya membayar hutang hingga Tante Dewi Persik terlihat sangat senang. Saat pulang, karena sudah malam dan kondisi jalan sangat jelek, beberapa kali motorku nyaris terguling. Karena takut terjatuh, Tante Dewi Persik membonceng dengan memeluk erat tubuhku.

Dengan posisi membonceng yang terlalu mepet, sepasang gunung kembar Tante Dewi Persik terasa menekan punggungku. Aku jadi membayangkan bentuknya yang kulihat saat ia telanjang di rumahnya. Hal itu membuatku terangsang dan menjadikan konsentrasiku mengendarai sepeda motor agak terganggu. Bahkan nyaris menabrak pengendara sepeda yang ada di hadapanku. Untung Tante Dewi Persik segera mengingatkannya.

“Did karena kamu sudah mengantar tante, tante akan memberi hadiah istimewa. Tapi kamu harus menjawab dulu pertanyaan tante dengan jujur,” kata Tante Dewi Persik saat perjalanan hampir sampai rumah.
“Pertanyaan apa Tan?”
“Tadi waktu lihat tante telanjang di kamar, kamu terangsang kan?” katanya berbisik di telingaku sambil kian merapatkan tubuhnya.

Aku tak menyangka ia akan bertanya seperti itu. Aku jadi bingung buat menajawabnya. Harusnya kujawab jujur bahwa aku sudah sangat terangsang. Tetapi aku nggak berani takut salah. Sampai akhirnya, kurasakan tangan Tente Dewi Persik meraba bagian depan celana dan meraba penis ku yang telah tegang mengacung. “Ini buktinya punyamu tegang dan mengeras. Pasti karena terangsang membayangkan tetek tante yang menempel di punggungmu kan?”
“I..i.. iya tan,” kataku akhirnya menyerah.

“Nah gitu dong ngaku. Makanya cepet deh bawa motornya biar cepet sampai rumah. Kalau Tora belum pulang, nanti kamu boleh lihat punya tante sepuasmu,” ujarnya lagi sambil terus mengelus penis ku.

Penawaran ibunya Tora adalah sesuatu yang paling kudambakan selama ini. Maka langsung saja kupacu kencang laju sepeda motor seperti yang diperintahkannya. Mudah-mudahan saja Tora belum pulang hingga tidak membatalkan niat Tante Dewi Persik untuk memberi hadiah istimewa seperti yang dijanjikannya. Mudah-mudahan ia masih terus asyik menikmati kehangatan tubuh ibuku seperti yang pernah kulihat.

Sampai di rumah, setelah tahu Tora belum pulang, aku diminta memasukkan sepeda motor dan menutup pintu. “Setelah itu tante tunggu di kamar,” ujarnya.

Namun setelah semua perintahnya kulaksanakan, aku ragu untuk masuk ke kamar Tante Dewi Persik seperti yang diperintahkannya. Tidak seperti Tora yang telah berpengalaman dengan wanita setidaknya dengan pembantu di rumahnya dan dengan ibuku, aku belum pernah melakukannya meskipun sering beronani dan membayangkan menyetubuhi ibuku maupun ibunya Tora. Hingga aku hanya duduk mencenung di ruang tamu menunggu panggilan Tante Dewi Persik.

Sampai akhirnya, mungkin karena aku tak kunjung masuk ke kamarnya, Tante Dewi Persik sendiri yang keluar kamar menemuiku. Hanya yang membuatku kaget, ia keluar kamar bertelanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. “Katanya suka melihat tante telanjang, kok nggak cepet masuk ke kamar tante?” katanya menghampiriku.

Ia berdiri tepat di hadapan tempatku duduk seolah ingin mempertontonkan bagian paling pribadi miliknya agar terlihat jelas olehku. Tak urung jantungku berdegup lebih kencang dan jakunku turun naik menelan ludah. Betapa tidak, tubuh telanjang Tante Dewi Persik kini benar-benar terpampang di hadapanku. Diantara kedua pahanya yang membulat padat, di selangkangannya kulihat bibir ngewe nya yang menggunduk. Licin tanpa rambut karena habis dicukur. Dan seperti bibir ngewe ibuku, bibir luar ngewe nya yang berwarna coklat kehitaman tampak berkerut-kerut.

Seperti kebanyakan wanita seusia dengannya, perut Tante Dewi Persik sedikit membuncit dan ada lipatan-lipatan di sana. Namun buah dadanya yang menggantung dengan putingnya yang menonjol nampak lebih besar ketimbang milik ibuku. Ibu temanku itu hanya tersenyum melihat ulahku yang seperti terpana menatapi bukit ngewe nya.

Entah darimana datangnya keberanian itu, tiba-tiba tanganku terulur untuk meraba bibir ngewe Tante Dewi Persik. Hanya sebelum berhasil menyentuh, keraguan seperti menyergap hingga nyaris kuurungkan niatku. “Ayo Did pegang saja. Kamu ingin merabanya kan? Sudah lama punya tante nggak ada yang menyentuh lho,” kata Tante Dewi Persik melihat keraguanku.
Hangat, itu yang pertama kali kurasakan saat telapak tanganku akhirnya mengusap bibir ngewe wanita itu. Permukaannya agak kasar, mungkin karena bulu-bulu rambutnya yang habis dicukur. Sedangkan di bagian tengah, di bagian belahannya, daging kenyal yang berkerut-kerut itu terasa lebih hangat. Aku mengelus dan mengusapnya perlahan. Ah, tak kusangka akhirnya aku dapat menjamah kemaluan Tante Dewi Persik yang sudah lama kudambakan.

Sambil tetap duduk, aku terus merabai bibir ngewe ibu temanku itu. Bahkan jariku mulai mencolek-colek celah diantara bibir vaginanya yang berkerut. Lebih hangat dan terasa agak basah. Sebenarnya aku ingin sekali melihat bentuk kelentitnya. Namun karena Tante Dewi Persik berdiri dengan kaki agak merapat, jadi agak sulit untuk dapat melihat kelentitnya dengan leluasa. Untungnya, Tante Dewi Persik langsung tanggap. Tanpa kuminta, kaki kanannya diangkat dan ditempatkan di sandaran kursi tempat aku duduk.

Dengan posisinya itu, bibir ngewe ibunya Tora jadi lebih terpampang di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat. Kini bibir ngewe nya tampak terbuka lebar. Di bagian dalam warnanya kemerah-merahan. Dan kelentitnya yang ukurannya cukup besar juga terlihat mencuat. “Pasti kamu ingin lihat itil tante kan? Ayo lihat sepuasmu Did. Atau jilati sekalian. Tante ingin merasakan jilatan lidahmu,” ujar Tante Dewi Persik lagi.

Ia mengatakan itu sambil memegang kepalaku dan menekannya agar mendekati ke selangkangannya. Jadilah wajahku langsung menyentuh bibir ngewe nya karena tarikan Tante Dewi Persik pada kepalaku memang cukup kuat. Saat itulah, aroma yang sangat asing yang belum pernah kukenal sebelumnya membaui hidungku. Bau yang timbul dari bibir ngewe ibunya Tora. Bau yang aneh tapi membuatku makin terangsang.

Aku jadi ingat segala yang dilakukan Tora pada bibir ngewe ibuku. Maka setelah menciumi dengan hidungku untuk menikmati baunya, bibir ngewe nya yang berkerut langsung kulahap dan kucerucupi. Bahkan seperti menari, lidahku menjalari setiap inci bibir ngewe Tante Dewi Persik. Sesekali lidahku menyodok masuk sedalam yang bisa dicapai dan di kesempatan yang lain, ujung lidahku menyapu itilnya. Hasilnya, Tante Dewi Persik mulai merintih perlahan. Tampaknya ia mulai merasakan kenikmatan dari tarian lidahku di bibir ngewe nya.

“Ahh… sshh … aahh enak banget Did. Terus sayang, aahh .. ya.. ya enak sayang ahhh,” suara Tante Dewi Persik mulai merintih dan mendesis.

Ia juga mulai merabai dan meremasi sendiri buah dadanya. Aku jadi makin bersemangat karena yang kulakukan telah membuatnya terangsang. Itil Tente Dewi Persik tidak hanya kujilat, tetapi kukecup dan kuhisap-hisap. Sementara bongkahan bokong besarnya juga kuraih dan kuremasi dengan tanganku. “Auu … enak banget itil tante kamu hisap sayang! Aahh…. sshhh ..ohh… enak banget. Kamu pinter banget Did,… ahhh ….ssshh …ahhh,” rintihanya makin menjadi.

Cukup lama aku mengobok-obok bibir ngewe Tante Dewi Persik dengan mulut dan lidahku. Bibir ngewenya menjadi sangat basah karena dibalur ludahku bercampur dengan cairan vaginanya yang mulai keluar. Akhirnya, mungkin karena kecapaian berdiri atau gairahnya semakin memuncak, ia memintaku untuk menghentikan jilatan dan kecupanku di liang sanggamanya. “Kalau diterusin bisa bobol deh pertahanan tante,” ujarnya sambil memintaku untuk berganti posisi.

Namun sebelumnya, ia memintaku untuk membuka semua yang masih kukenakan. Bahkan seperti tak sabar, saat aku tengah melepas bajuku ia membantu melepas ikat pinggang dan memelorotkan celana jins yang kukenakan. Termasuk celana dalamku juga dilolosinya.”Wow… penis kamu gede banget Did! Keras lagi,” seru Tante Dewi Persik saat melihat penis ku telah terbebas dari pembungkusnya.

Dibelai dan di elus-elusnya penis ko sesaat. Ia sepertinya mengagumi ukuran penis ku. Lalu ia duduk di kursi tempat aku duduk sebelumnya dengan posisi mengangkang. Kedua kakinya dibukanya lebar-lebar hingga bibir ngewe nya yang membusung terpampang dengan belahan di bagian tengahnya membuka. Kelentitnya yang mencuat nampak mengintip di sela-sela bibir luar ngewe nya yang berkerut-kerut.

Tante Dewi Persik yang nampaknya jadi tak sabar langsung menarikku mendekat. Dibimbing tangan wanita itu penis ku diarahkan ke bibir ngewe nya. “Dorong dan masukkan Did penis mu. Ih gemes deh, punya kamu besar banget,”.

Tanpa menunggu perintahnya yang kedua kali, aku langsung menekan dan mendorong masuk penis ku ke bibir ngewe nya. Tapi, “Aaauuww,.. jangan kencang-kencang Did. Bisa jebol nanti bibir ngewe tante,” pekik Tante Dewi Persik.

Aku jadi kaget dan berusaha menarik kembali penis ku namun dicegah olehnya. “Jangan sayang, jangan ditarik. Biarkan masuk tetapi pelan-pelan saja ya,” pintanya.

Seperti yang dimintanya, batang penis ku yang baru masuk sepertiga bagian kembali kudorong masuk. Namun dorongan yang kulakukan kali ini sangat perlahan. Hasilnya, bukan cuma Tante Dewi Persik yang terlihat menikmati sodokan penis ku di bibir ngewe nya. Tetapi aku pun merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa. Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan yang sulit kulukiskan.

Terlebih ketika penis ku mulai kukeluarmasukkan ke dalam bibir ngewe itu. Ah, luar biasa nikmat. Jauh lebih enak menikmati kehangatan bibir ngewe Tante Dewi Persik secara langsung ketimbang hanya membayangkan dan mengocok sendiri dengan tangan. Bagian dalam dinding bibir ngewe Tante Dewi Persik seperti menjepit dan menghisap hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara.

“Terus Did,.. uh… uhh… penis mu enak banget. Gede dan marem banget. Ah iya Did, terus sogok bibir ngewe Tante sayang. Ah,.. ahh… ahhhh,” Tante Dewi Persik mengerang nikmat.
Mendengar erangannya, aku jadi kian bersemangat mengentotinya. Apalagi aku melakukannya sambil terus memandangi bibir ngewe nya yang tengah diterobosi penis ku. Ternyata, di bibir luar kemaluan Tante Dewi Persik ada sebentuk daging yang menggelambir. Saat batang penisku kudorong masuk, daging menggelambir itu ikut terdorong masuk. Namun saat aku menariknya, bagian tersebut juga ikut keluar. Melihat itu sodokan penis ku pada bibir ngewe wanita itu kian bersemangat.

“Bibir ngewe Tante nggak enak ya Did? Kok dilihatin begitu?” Kata Tante Dewi Persik. Rupanya ia memperhatikan ulahku.

“Eee. enak bangat Tante. Sungguh. Bibir ngewe tante bisa meremas. Saya sangat suka,” ujarku tanpa berterus terang perihal bagian daging yang menggelambir dan menarik perhatianku.
“Bener Did? Kalau kamu suka, kapanpun kamu boleh entotin terus tante. Tante juga suka banget penis kamu. Ahhh sshhh… aakkhhh… enakk bangat sayang. Ohhh terus Did, ayo sayang sogok terus. Ahhh… ahh …ah,”

Sambil terus melakukan sodokan ke liang sanggamanya, perhatianku juga tertarik pada buah dada Tante Dewi Persik yang terlihat terguncang-guncang seiring dengan guncangan tubuhnya. Maka langsung saja kuremas-remas teteknya yang berukuran besar namun agak kendur itu. Sesekali kedua putingnya yang mencuat, berwarna coklat kehitaman kupilin dengan jari-jariku. Alhasil Tante Dewi Persik kian kelojotan, desah nafasnya semakin berat dan erangannya semakin menjadi.

Aku menjadi keteter ketika wanita itu mulai melancarkan serangan balik dan menunjukkan kelihaiannya sebagai wanita berusia matang. Ia yang tadinya mengambil sikap pasif dan hanya menikmati setiap sogokan penis ku di bibir ngewe nya, mulai menggoyangkan pinggulnya. Goyangannya seakan mengikuti irama sodokan penis ku di bibir ngewe nya.

Maka yang kurasakan sungguh di luar perhitunganku. Jepitan dinding vaginanya pada penis ku terasa semakin menghimpit dan putarannya membuat batang penis ku serasa digerus dan dihisap. “Oohh… ohh… sshhh ..ssh ah enak bangat tante. Bibir ngewe tante enak banget. Sss sa.. saya nggakk.. tahan tante. Ohh… ohhhh,”

“Tahan Did, tante juga hampir sampai. Ah enak banget… penis kamu enak banget Did. Ah.. sshhh ahh….sshh ahh ahhh,”

Seperti yang diinginkannya, aku berusaha keras menahan jebolnya pertahananku. Namun saat goyangan bokong Tante Dewi Persik kian menjadi, berputar dan meliuk-liuk lalu disusul dengan melingkarnya kedua kaki wanita itu ke pinggangku dan menariknya, akhirnya ambrol juga semua yang kutahan. Seperti air bah, air maniku memancar deras dari ujung penis mengguyur bagian dalam bibir ngewe ibu temanku itu diantara rasa nikmat yang sulit kulukiskan. “Saya nggak tahan tante, ahh… ssshhh ..ahhh… ah..aakkhhhhhhh,”

Kenikmatan yang kudapat semakin berlipat ketika beberapa detik berselang, bibir ngewe Tante Dewi Persik berkejut-kejut menjepit, meremas dan seperti menghisap dengan keras penis ku. Rupanya, ia juga telah sampai pada puncak gairahnya. “Tante juga nyampai Did. Ahh.. sshhh… ohhh …ooohh … aakkkhhh,. Enak bangat Did,… ahhh,.. akkhhhh …..aaaakkkkhhhhhhhh,” ia merintih keras dan diakhiri dengan erangan panjang.

Tante Dewi Persik menciumiku dan memeluk erat tubuhku dalam dekapan hangat tubuhnya yang bermandi keringat setelah puncak kenikmatan yang kami rasakan. “Tante sangat puas Did. Sudah lama tante tidak merasakan yang seperti ini. Kalau kamu suka, pintu rumah tante selalu terbuka kapan saja,” katanya sambil terus memeluk dan menciumiku sampai akhirnya ia mengajakku mandi bersama.
Malam itu setelah makan bersama, aku dan Tante Dewi Persik mengulang beberapa kali permainan panas yang tidak sepantasnya dilakukan. Berkali-kali air maniku muncrat membasahi bibir ngewe nya dan membuat lemas sendi-sendiku. Namun, berkali-kali pula Tante Rpdiyah mengerang dan merintih oleh sogokan penis ku. Baru saat menjelang pagi kami sama-sama terkapar kelelahan.